Sabtu, 27 Oktober 2012

Kereta Api Express Malam Bima

Posted by M. Bagas R.W. On 21.21 No comments

Kereta Api Bima adalah kereta api ekspress malam eksekutif ber-AC yang melayani rute Jakarta (Gambir) hingga Surabaya (Gubeng), melalui Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Solo dan Madiun.
 
Kereta api Bima ini sendiri mulai beroperasi pada tanggal 1 Juni 1967, dan terdiri dari 2 rangkaian, yaitu Bima I dan Bima II. Mereka menggunakan kereta tidur berwarna biru buatan Gorlitz Waggenbau, Jerman Timur, tahun 1967.

Kereta api ini awalnya merupakan sebuah kereta api tidur, dan merupakan salah satu kereta api ber-AC pertama yang operasional di Indonesia. Kereta api ini adalah kereta api pertama yang diperlengkapi dengan gerbong pembangkit. Namun pada tahun 1984, kereta api ini berganti menjadi kereta api eksekutif, dengan mengganti rangkaian kereta tidur dengan kereta tempat duduk. Walaupun begitu di tiap rangkaiannya masih ada dua gerbong tidur kelas 2 yang beroperasi hingga tahun 1990, sebelum diganti kereta tidur kuset.

Kereta api Bima menjadi kereta api eksekutif penuh di tahun 1995, sewaktu kereta kusetnya dihapus. Hingga kini kereta api Bima masih beroperasi dengan konfigurasi ini.

DESAIN KERETA

Pada masanya, kereta api Bima dipandang cukup revolusioner. Kereta api ini adalah kereta pertama yang menggunakan gerbong pembangkit untuk sumber tenaga listrik. Selain itu kereta api Bima adalah kereta api pertama yang menggunakan sistem AC berfreon yang umum dipakai sekarang. Namun tidak seperti sekarang, waktu itu AC terletak di bawah gerbong, dan udara dingin dialirkan ke kabin penumpang melalui jaringan pipa di dalam gerbong. Ciri khas dari sistem AC ini adalah deretan tonjolan bulat di atap kereta. Bahkan ruang istirahat di gerbong pembangkit juga dilengkapi dengan AC.

Rangkaian kereta api Bima terdiri dari kereta tidur kelas 1 (SAGW) dan kereta tidur kelas 2 (SBGW), serta gerbong pembangkit dan bagasi.

Kereta kelas 1 terdiri dari kabin-kabin yang tempat tidurnya sejajar mengikuti arah kereta api. Sedangkan kereta kelas 2 tempat tidurnya posisinya melintang terhadap arah kereta api. Harga tiket penumpang sudah termasuk makan malam dan sarapan, yang disajikan di kereta makan (tidak seperti sekarang yang disajikan langsung di tempat duduk).

FASILITAS KARYAWAN

Karyawan yang bertugas di kereta api Bima juga memperoleh kemewahan yang tak dijumpai pada kereta api eksekutif pada saat ini. Jika dibandingkan dengan saat ini, operator gerbong pembangkit (DPPW) saat itu memperoleh kenyamanan ekstra karena kompartemen di gerbong pembangkit dibuat kedap suara, serta diperlengkapi dengan AC
Interior kompartemen gerbong pembangkit Bima tahun 1967. Perhatikan lubang AC di langit-langit. *dok PJKA
Pada jaman dulu, petugas gerbong pembangkit berisitirahat di ruangan ber-AC yang kedap suara. Bandingkan dengan petugas BP jaman sekarang yang ruang isitrahatnya tidak ber-AC dan bising, sehingga kadang mereka “mengungsi” ke kereta makan atau kereta penumpang.
Tempat cuci piring kereta makan. Perhatikan panel Public Announcer di atas. *dok PJKA
Selain itu, petugas restorasi juga mendapatkan tempat kerja yang sangat nyaman. Bahkan dapurnya sekalipun juga diperlengkapi dengan panel kayu! Fasilitas kerja karyawan restorasi juga diperlengkapi dengan sistem panel elektronik untuk membantu kerja pelayanan penumpang.

KERETA MAKAN (FW).
Eksterior kereta makan Bima, di agenda PJKA tahun 1978.

Setiap rangkaian kereta api Bima selalu membawa satu kereta makan (FW). Kereta makan ini biasanya ditaruh di tengah rangkaian kereta api. Namun pada tahun 1960an hingga tahun 1980an, kereta makan ini bisa ditaruh di ujung rangkaian (bisa di depan atau belakang rangkaian).

Kereta makannya terdiri dari dapur, serta ruang makan yang menyerupai restoran, dimana penumpang duduk di meja untuk 4 orang.

Jika dibandingkan dengan kereta makan di kereta api eksekutif lainnya pada saat itu (Mutiara Utara) kereta makan kereta api Bima tidak mempunyai banyak perbedaan, mengingat keduanya berasal dari pabrik yang sama.
Interior kereta makan kereta api Bima tahun 1972. *dok. PJKA
Pada masanya, makanan yang disajikan diatas kereta terhitung istimewa. Walaupun sudah termasuk tuslah (termasuk harga tiket), tetapi menu makanannya bervariasi, dan porsinya besar. Itu bisa berupa bistik, nasi rames, nasi goreng, lengkap dengan makanan penutupnya yang umumnya berupa puding. Selain itu kualitas makanannya cukup bersaing dengan yang umumnya disajikan di hotel berbintang.

Makanan bisa disajikan secara a la carté, dimana makanan disajikan kepada penumpang yang duduk di meja, atau disajikan secara prasmanan (buffet), dimana makanan disajikan di salah satu meja di sudut kereta makan, dan penumpang tinggal mengambil sendiri makanannya.

KERETA TIDUR KELAS 2 (SBGW)
 
Koridor kereta kelas 2, di agenda PJKA tahun 1978
 Bagi penumpang yang ingin menikmati kenyamanan kereta api Bima dengan tarif paling murah, mereka biasanya naik kereta tidur kelas 2. Walaupun kelas 2, tetapi kenyamanannya masih setara dengan yang kelas 1. Tidak seperti kereta sekarang, dimana kenyamanan antara kelas 1 (“Eksekutif”) dengan kelas 2 (“Bisnis”) berbeda jauh.

Kabinnya sendiri posisinya berada di samping, dan di sisi lain terdapat gang yang digunakan sebagai jalan lewat penumpang dan petugas. Di satu sisi gang terdapat jendela-jendela, dan di sisi lain adalah pintu geser masuk ke dalam kamar penumpang. Di bawah jendela terdapat asbak rokok, karena merokok di dalam kabin ber-AC pada dasarnya dilarang.

Yang menjadi ciri khas dari kereta tidur kelas 2 di bagian SBGW adalah konfigurasi susunan tempat tidurnya. Posisi tempat tidurnya melintang terhadap arah perjalanan. Semua tempat tidur itu berada dalam kabin-kabin, dimana tiap kamar terdiri dari 3 tempat tidur yang posisinya bertingkat dan bersebelahan.

Pada awal-awal perjalanan, biasanya tempat tidurnya selalu pada posisi dilipat. Dan penumpang duduk di kursi layaknya di kereta biasa. Hanya saja mereka berada di dalam kabin sendiri.

Saat makan tiba, para penumpang akan dipanggil untuk datang ke kereta restorasi untuk makan. Biasanya panggilannya digilir per kereta, karena batas kapasitas. Pada saat penumpang menikmati sajian makan malam, para petugas restorasi sibuk melipat kursi, dan mengubahnya menjadi tempat tidur. Selain itu mereka juga memasang dan merapikan selimut di tempat tidur. Setelah selesai makan, para penumpang kembali ke kamar masing-masing dan langsung tidur.

KERETA TIDUR KELAS 1 (SAGW)
 
Koridor kereta kelas 1, di agenda PJKA tahun 1978.
Kereta tidur kelas 1 (SAGW) adalah kereta tidur kelas eksekutif yang diperuntukkan untuk penumpang yang membayar tiket paling mahal. Para penumpang tidur di kamar luas yang diisi hanya oleh 2 orang.

Konfigurasi interior kereta ini berbeda dengan yang di kelas 2, dimana kamar-kamarnya terletak di kedua sisi kereta, karena posisi tempat tidurnya yang searah dengan arah perjalanan kereta. Mengingat ruangankereta  yang terbatas, namun masih diperlukan ruangan untuk berdiri di dalam kamar, maka tiap kamar penumpang berbentuk trapesium. Konsekuensinya, gang di tengah kereta bentuknya berkelok-kelok.

Masing-masing kamar terdiri dari 2 tempat tidur yang posisinya bertingkat. Pada saat awal perjalanan, tempat tidurnya dalam posisi terlipat, dan sebagai gantinya penumpang duduk di kursi secara berhadapan. Di sebelahnya terdapat wastafel cuci tangan yang bisa dilipat, serta tempat untuk menyimpan botol air minum mineral untuk penumpang. Selain juga terdapat lemari untuk menyimpan pakaian.

Dan di tengah perjalanan, para penumpang akan diundang untuk makan malam di kereta restorasi. Pada saat yang sama, petugas restorasi sibuk melipat kursi dan merubahnya menjadi tempat tidur. Seusai makan, para penumpang bisa kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.

Apalagi karena posisi tempat tidur yang searah dengan arah kereta, maka tidur di kereta SAGW rasanya seperti tidur di ranjang buaian bayi.

SEJARAH OPERASIONAL

CC201 32 menarik kereta api Bima melewati daerah Gayung Kebonsari , Surabaya, tahun 1983. Daerah ini sekarang padat, dan tertutup jembatan tol. (dok. Susanto Tjokro).

KERETA API TIDUR
Awalnya kereta api Bima berjalan melewati rute kereta api pendahulunya: Bintang Sendja. Jadi dari Jakarta dan Cirebon, kereta lewat Semarang. Kemudian menuju Kedungjati dan Solo (Jebres), serta Madiun dan Jombang, hingga Surabaya. Tapi beberapa minggu kemudian, rutenya dirubah melewati Purwokerto dan Yogyakarta hingga sekarang.

 
Antara dekade 1960an hingga awal tahun 1980an, kereta api Bima beroperasi dengan konfigurasi standard terdiri dari 2 kereta SAGW, 2 kereta SBGW, 1 kereta FW, 1 gerbong DPPW, serta satu kereta bagasi.

Karena statusnya yang merupakan kereta api unggulan pada saat itu, dan merupakan satu dari 2 kereta api eksekutif AC pertama yang dioperasikan di Indonesia, maka menaiki kereta api ini adalah sebuah prestise. Apa lagi rutenya yang melewati kota-kota besar di pulau Jawa membuatnya menjadi kereta api yang populer, serta merupakan icon perkereta apian pada saat itu. Bisa dibilang, pada masa jayanya, ada kebanggaan tersendiri bagi seseorang jika menaiki kereta api Bima.
Apalagi pada masa itu moda transportasi lain, seperti bus atau pesawat terbang tidak bisa menyamai kenyamanan yang ditawarkan kereta api Bima. Hal ini karena para pengguna jasa kereta api Bima bisa menikmati pelayanan seperti hotel berbintang selama perjalanan. Dengan begitu mereka bisa menghemat biaya akomodasi dan transportasi secara sekaligus!

Kereta api Bima pada periode itu sering menghiasi media, dan selama beberapa kali menjadi latar setting beberapa film.

MENJADI KA EKSEKUTIF

Sayangnya, pengguna jasa kereta api tidak lama menikmati kenyamanan seperti ini. Walaupun okupansi dan keuntungan operasionalnya memuaskan, akhirnya kelas tidur kereta api Bima dihapus lebih karena alasan sosial daripada teknis ataupun finansial. Dan akhirnya PJKA secara tergesa-gesa memesan 2 rangkaian kereta eksekutif buatan Arad, Rumania, untuk mengganti kereta SAGW. Tidak seperti gerbong buatan Gorlitz, kereta ini adalah gerbong tempat duduk. Oleh karena itu kenyamanannya berbeda dengan kereta tidur.

Rangkaian kereta pengganti ini operasional tahun 1984. Semenjak tahun itu, kereta api bima berubah menjadi kereta duduk Kelas 1. Walaupun biasanya di tiap rangkaian masih ada 1 atau 2 kereta tidur SBGW yang asli dari tahun 1967. Sedangkan sisa gerbong tidur lainnya sempat dipakai sebentar di kereta api ekspress lainnya, seperti Mutiara Utara, Senja atau Mutiara Selatan sebelum diistirahatkan. Tiga diantaranya dikonversi menjadi kereta kenegaraan, yang kemudian diberi nama “Nusantara”, “Bali”, dan “Toraja”. “Nusantara” adalah kereta resmi Kepresidenan dan wisata.
Kereta Wisata "Nusantara"
Mereka dikombinasikan dengan sisa kereta SBGW. Dan selama periode itu, pelayanan kereta api Bima perlahan berkurang. Dimulai dengan berkurangnya kualitas makanan tuslah, diikuti dengan menurunnya kualitas kereta dan AC-nya. Apalagi kereta K1-847xx ini ternyata dinilai sebagai kereta eksekutif terburuk yang pernah dimiliki PT Kereta Api Indonesia. Penulis sendiri pernah naik kereta ini pada tahun 1987 silam, dan kondisinya waktu itu sudah cukup jelek.

Kereta Api Bima berjalan dengan formasi kombinasi K1 dan SBGW selama pertengahan hingga akhir tahun 1980an. Walaupun sebagian fasilitas kenyamanan kereta api Bima masih ada, tapi mayoritas penumpang tidak bisa tidur senyenyak seperti di kereta api Bima yang dulu.

Dan pada tahun 1990, kereta tidur SBGW berhenti geroperasi. kereta-kereta SAGW dan SBGW kemudian dirubah menjadi kereta kelas 1 jenis K1-67xxx, dengan menghilangkan sekat-sekat kamar dan tempat tidur, serta menggantinya dengan tempat duduk.

Peran kereta SBGW (yang di tahun 1985 kodenya diganti menjadi KT-677xx) digantikan oleh kereta kuset. Kererta kuset ini mirip SBGW, hanya satu kamarnya terdiri dari 4 tempat tidur yang paten dan tidak bisa dilipat. Tidak seperti kereta tidur Bima sebelumnya yang dari pabriknya merupakan kereta tidur, kereta kuset ini merupakan modifikasi kereta ekonomi buatan Nippon Sharyo tahun 1964, dengan menambahkan AC, sekat ruangan, dan mengganti tempat duduknya dengan tempat tidur yang paten.
Interior Kereta api Bima sekarang. *dok. Made Doddy Wihardi
Walaupun kereta Kuset sempat mengganti SBGW, namun kebijakan Perumka tahun 1995 yang lebih mengejar jumlah okupansi (daripada kualitas pelayanan) akhirnya membuat kereta api Bima menjadi kereta api eksekutif biasa. Dan semenjak itu era kereta tidur di Indonesia telah berakhir.

Kereta K1-67501 adalah contoh bekas kereta tidur kereta api Bima (eks SBGW) yang dirubah menjadi kereta duduk eksekutif. Kereta ini sekarang menjadi kereta Sembrani New Image, dan konfigurasi jendelanya yang khas diganti pada tahun 2007.

REGENERASI KA BIMA.

Tahun 1995, lahirlah kereta api Argo generasi pertama, yaitu Argo Bromo dan Argo Gede. Keberadaan kereta-kereta ini otomatis menggeser posisi kereta api Bima dari posisi puncak kereta unggulan. Para pengguna kereta api waktu itu lebih tertarik untuk menggunakan KA Argo karena waktu tempuhnya yang lebih cepat. Dan kondisi keretanyanya yang masih baru membuatnya terasa lebih nyaman dari kereta api Bima.

Kereta api Argo Bromo ini rutenya melewati pantai utara pulau Jawa, melewati rute yang sama dengan kereta api Mutiara Utara (yang digantikannya), yaitu Jakarta (Gambir), Cirebon, Semarang, sampai Surabaya (Pasar Turi). Jarak tempuh ini jauh lebih pendek jika dibandingkan dengan kereta api Bima yang harus memutar lewat selatan pulau Jawa, termasuk melewati rute pegunungan di sekitar Purwokerto.

Faktor lainnya yang membuat kereta api Argo Bromo lebih cepat dari Bima adalah penguatan bantalan dan rel di pantai utara Jawa (yang dulunya memiliki tekanan gandar rendah karena sebagian merupakan bekas jalur trem), sehingga memungkinkan kereta api yang ditarik lokomotif besar melaju dengan kecepatan hingga 120 km/jam.

Selama beberapa tahun, keberadaan kereta api Bima seakan-akan seperti terlupakan. Dan walaupun krisis moneter sempat membuat banyak orang naik kereta api, tapi pilihan mereka adalah kereta ekspress di jalur utara pulau Jawa, seperti kereta api Argo Bromo atau Sembrani. Perjalanannya yang lama dan jauh membuat orang kurang tertarik naik kereta api Bima.

Tapi kemunculan kereta api Argo Bromo Anggrek pada tahun 1997 menyebabkan gerbong Argo Bromo generasi pertama menjadi surplus. Akhirnya rangkaian kereta api  Argo Bromo tersebut kemudian dialihkan untuk kereta api Bima.
Interior Kereta api Bima sekarang. *dok. Made Doddy Wihardi
Walaupun begitu, kereta-kereta ini terkadang bisa dipakai untuk jalur utara lagi, jika kereta Argo Bromo Anggrek mengalami masalah. Hal ini terjadi karena pada saat itu jumlah rangkaian kereta Argo Bromo Anggrek masih terbatas, serta kerjanya berlebihan. Hal ini menyebabkan kereta Argo Bromo Anggrek mudah rusak.

Tapi kedatangan rangkaian kereta Argo Bromo Anggrek tambahan pada tahun 2001 akhirnya membuat rangkaian kereta Argo Bromo pertama dipakai seterusnya untuk kereta api Bima.

VARIASI LOKOMOTIF

Selain itu lokomotif yang dipakai untuk menarik kereta api Bima adalah lokomotif unggulan pada masanya, seperti lokomotif BB200, BB201, dan CC200.
Kereta Api Bima menggunakan Lokomotif BB31
Bagi sebagian besar orang, lokomotif BB301 adalah lokomotif yang identik dengan tahun-tahun awal operasi kereta api Bima. Walaupun pada tahun 1977 muncul lokomotif CC201 yang juga dipakai untuk menarik kereta api Bima, tapi lokomotif BB301 paling sering dipakai untuk kereta api ini.

BB301 08 menarik kereta api Bima memasuki stasiun Wonokromo di tahun 1960an. (foto dok. Harriman Widiarto).

Seiring dengan menurunnya kemampuan lokomotif diesel ini, maka sejak tahun 1990, lokomotif CC201 menggeser kedudukannya sebagai lokomotif favorit untuk kereta api Bima.

lokomotif CC201 11 (sekarang CC204 02) menarik kereta api Bima melewati Gayung Kebonsari, Surabaya, tahun 1983. Daerah ini sekarang padat perumahan. (foto dok. Susanto Tjokro).

Kejayaan lokomotif CC201 sendiri berakhir, seiring dengan kedatangan lokomotif CC203 pada tahun 1995. Lokomotif ini kini menjadi lokomotif andalan penarik kereta api Bima.

CC203 08 melewati rangkaian kereta api Bima yang menggunakan bekas rangkaian KA Argo Bromo, di stasiun Surabaya Gubeng, tahun 1998.
Sumber : Bambang Triono / Komunitas Kereta Ekspress Malam BIMA

0 comments:

Poskan Komentar